Dunia Kecil dalam Diri Manusia (Pandangan Ibn 'Arabi, Manusia itu Totalitas Wujud)


Jika dengan kemampuan akal dan ruhaniyah manusia mampu mencakup penampakan Tuhan, maka pantas jika dia disebut oleh Ibn 'Arabi sebagai “dunia kecil”. Kata “kecil” disini tidak serta merta menurunkan derajat manusia sebagai penampakan Tuhan. Dikatakan kecil karena ukuran jasmaniyahnya yang kecil dibanding dengan alam semesta. Tetapi walau kecil, dia adalah “alam”. Pada dirinya tampak jelas alam yang besar (al-'alam al-akbar ) bahkan tampak pula pencipta alam yang besar itu.

Dengan demikian manusia adalah totalitas alam (majmu' 'alam) lebih tepatnya totalitas wujud. Karena Tuhan menyusun padanya segala sesuatu selain diri-Nya, sehingga hakikat nama-Nya dapat menjelma dengan jelas. Setiap asma' Tuhan berhubungan dengan manusia dan tak satupun dari asma' itu yang ada dalam dirinya. Bila dicermati firman Allah, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidaklah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.S. Fussilat, ayat 53).

Manusia yang kecil ini disandingkan dengan alam raya yang agung sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan. Benar kata Ibn 'Arabi, bahwa jika diperhatikan apa yang terpisah-pisah dalam alam besar semuanya ada dalam diri manusia. Jika di alam ada tumbuh-tumbuhan, maka pada manusia pun ada hal-hal yang tumbuh seperti rambut dan kuku. Jika di alam ada air asin, tawar dan pahit maka semua itu pun ada pada manusia. Yang asin ada pada matanya, yang pahit ada di lubang hidungnya dan telinganya dan yang tawar di mulutnya. Jika di alam tanah, air, udara, api maka di dalam manusia pun ada tanah yang diwakili oleh sifat pasrah, ada air yang diwakili oleh sifat sejuk, ada udara yang diwakili oleh sifat bergerak, dan api yang diwakili oleh sifat marah. Demikian juga jika di alam ada empat arah angin yaitu utara, selatan, timur dan barat, maka dalam manusia ada empat potensi kekuatan yaitu menarik, menahan, menyerang dan menolak. Sebagaimana di alam ada binatang-binatang buas, syetan-syetan dan binatang ternak, di dalam manusia ada sifat memburu, mencari kekuasaan, mau menang, marah, dengki, iri dan penyimpangan (fujur), makan, minum, kawin dan bersenang-senang. Sebagaimana di dalam alam ada malaikat yang baik yang bolak-balik, maka dalam manusia ada kekuatan ada kekuatan, istiqomah. Dan, sebagaimana di alam ada yang tampak dengan kasat mata dan yang tak tampak, maka pada manusia ada yang tampak (zahir) dan yang tak tampak (batin), alam indrawi dan alam hati. Lahirnya adalah kerajaan (malak) dan batinnya adalah penguasa (malakut). Sebagaimana di alam ada yang tinggi dan yang rendah di dalam manusia juga ada yang tinggi dan rendah.

Dengan akal dan hatinya manusia dibebani (mukallaf) dengan kewajiban-kewajiban agama yang tidak dibebankan kepada makhluk manapun. Dan, Karena akal dan hatinya, dia pun dijadikan sebagai khalifah, sebuah kedudukan yang bisa dianggap sebagai penghormatan tertinggi dari sang Khalik kepada manusia sebagai makhluk. Fungsi seorang Khalifah adalah membangun bumi dan mengembangkan kehidupan. Di sini lagi-lagi manusia tidak sekedar sebanding dengan alam yang tidak memiliki peranan kecuali yang bersifat pasif. Memang manusia adalah bagian ruh bagi alam. Tanpa manusia alam tidak dapat menunjukkan kesempurnaan gambaran Tuhan (surat al-Haq).

Tujuan penciptaan alam adalah manusia. Alam diciptakan tidak lain adalah untuk kepentingan manusia, atau sebagai awalan bagi penciptaan manusia. Kalau bukan karena manusia, alam akan kehilangan makna dan fungsinya. Hidup dan matinya alam, rusak tidaknya alam sangat tergantung pada tangan manusia. Kehendak manusia untuk bertindak bahkan turut menentukan ada tidaknya alam. Dalam sebuah argumen, Ibn 'Arabi mengatakan bahwa manusia terutama yang berstatus insan Kamil adalah 'illah (sebab) penciptaan. Ini berarti bahwa kehendak Tuhan untuk mencipta alam tergantung pada kehendak insan Kamil untuk bertindak. Oleh karena itu, sering kita melihat Tuhan menyediakan fasilitas di dunia ini bagi orang-orang yang Ia kasihi. Salah satu contoh yang paling jelas adalah mu'jizat dan karamah yang Tuhan  berikan kepada nabi dan wali. Keberadaan mu'jizat dan karamah sangatlah tergantung kepada orang (nabi dan wali) yang bersangkutan. Tuhan tidak akan menciptakan mu'jizat atau karamah dan kemudian memberikannya kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya.

Para pewaris nabi dan wali juga memiliki mu'jizat dan karamah yang sama walau dengan nama yang berbeda. Pewaris nabi dan wali yang dimaksud adalah para ulama atau ilmuwan, baik ilmuwan agama maupun selain agama. Dan sungguh, tidak ada mu'jizat atau karamah yang lebih baik dan mulia daripada ilmu. Inti mu'jizat dan karamah adalah ilmu. Yang pernah diberikan kepada para nabi dan wali pada masa lalu yang kita kenal sebagai mu'jizat dan karamah tiada lain adalah ilmu.

Hanya ilmulah yang memenuhi kualifikasi sebagai mu'jizat dan karamah. Jika mu'jizat dan karamah dimaknai sebagai “sesuatu yang di luar kebiasaan”, maka hanya ilmu yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang di luar kebiasaan itu. Sederhananya, di dunia ini orang-orang yang luar biasa adalah mereka yang berilmu. Dan, dunia ini hanya bisa menjadi luar biasa ketika dikendalikan dengan ilmu.

Ketika Ibn 'Arabi berbicara tentang “manusia yang karenanya kehendak Tuhan akan terjadi dan al-haqq akan dikenal, manusia yang menjaga alam dan melestarikan keteraturannya (nizamuh)”, tidak dapat diragukan bahwa manusia yang dimaksud disini adalah mereka yang berilmu, subjek yang mengetahui.

Ini membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa insan kamil yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manusia paripurna, adalah manusia yang berilmu. Kriteria satu-satunya bagi seseorang untuk bisa disebut sebagai manusia paripurna adalah ilmu. Dan setiap manusia siapapun dia selama berilmu adalah manusia paripurna. Ini sekaligus menyempurnakan pandangan Ibn 'Arabi, bahwa insan kamil yang merupakan kalangan nabi dan wali tiada lain  adalah mereka yang berilmu.


Sumber : Nasr Hamid Abu Yazid, Hakadha Takallam Ibn 'Arabi, Kairo: Al-Hay'ah al-Misriyyah al-'Ammah li al-Kitab, 2002.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senam Kecerdasan dalam Multidisiplin Ilmu (Metoda Menjawab Pendidikan Berkarakter)

Apa itu prana?

ESTETIKA ALAM DAN PENGETAHUAN EKOLOGIS