Senam Kecerdasan dalam Multidisiplin Ilmu (Metoda Menjawab Pendidikan Berkarakter)

Berkat perkembangan teknologi, kita mengalami perubahan di dalam cara belajar (mendapatkan informasi, pengetahuan, dan ketrampilan baru). Ada mesin pencari (search engine) yang membuat kita bisa mencari dan mempelajari apapun yang kita butuhkan/inginkan. Anak-anak yang tumbuh sekarang adalah anak-anak digital. Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di sekitar mereka, TV, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka sangat terekspos
dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik).

Hal ini seringkali membuat mereka sulit fokus dengan model pendidikan yang dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi mereka. Jadi, sangat dimungkinkan anak-anak digital ini akan dinilai sebagai penyandang ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder) karena mereka sulit untuk memfokuskan diri pada model pengajaran yang membosankan di kelas. Banyak siswa sering dicap urakan atau terlalu "berandalan" dan tidak bisa mengikuti aturan atau tata tertib sekolah.

Hal lain yang terjadi saat ini, banyak siswa mengeluh stres dan depresi, mengalami psikosomatis, tidak mampu berprestasi, terlalu diatur dan tidak dipercaya atau orang tua berkeluh-kesah tentang kecurangan seperti contek-mencontek di UN. Guru, sekolah dan pemerintah punya kontribusi yang cukup besar dalam persoalan ini. Para guru yang masih memiliki hati nurani mungkin sebenarnya juga mengalami stres, lalu mereka melakukan mark-up nilai raport dan memberikan kunci jawaban kepada para siswa yang akan ujian. Mereka tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Namun, sekolah takut dinilai tidak prestisius jika target yang ditetapkan mengenai tingkat kelulusan tak tercapai.

Ketika realitas negeri kita begitu buruk dengan kebobrokan moral di hampir semua lini, salah satu harapan kita adalah institusi pendidikan yang akan menjadi bagian solusi untuk negeri kita. Institusi
pendidikan diharapkan dapat menyiapkan SDM untuk masa depan, kita berharap banyak kepada para guru dan pihak sekolah untuk menyiapkan anak-anak, yang bukan hanya cerdas, tetapi jauh
lebih penting: memiliki integritas pribadi dan bermoral kuat.

Persoalan yang muncul bagaimana merancang metode dan pendekatan yang tepat? Apakah kurikulum pendidikan sudah efektif dalam mengembangkan siswa? Tidak hanya persoalan akademis tetapi juga pengembangan karakter siswa menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul? Apakah yang dilakukan selama ini oleh pemerintah, institusi pendidikan bahkan pola asuh dan pendidikan orang tua sudah mendukung untuk perkembangan kepribadian siswa?

Model Program Pengembangan Karakter 
Sistem pendidikan umum sangat menekankan pada kemampuan akademis, sehingga secara natural siswa terpolarisasi menjadi dua kategori: akademis dan non-akademis, orang cerdas dan kurang
cerdas. Dan semuanya diukur dengan ukuran akademis. Akibatnya, banyak siswa yang sebenarnya hebat, tetapi mereka merasa gagal karena mereka berbeda dari standar “kehebatan” yang ditentukan oleh sistem pendidikan.

Sistem pendidikan saat ini dijalankan dengan model pabrik seperti pada revolusi industri. Proses dibagi dalam bagian yang terpisah (mata pelajaran), pendidikan dijalankan dalam sistem urutan/ kelas, dan output-nya adalah produk yang seragam, yang ditandai dengan waktu produksi (tahun kelulusan). Dalam model pendidikan yang selama ini berjalan, anak-anak dipaksa dengan cara belajar keras, lulus & mendapatkan ijazah, kemudian bekerja.

Sir Ken Robinson, seorang pakar pendidikan dari Inggris dan sekarang tinggal di AS, presentasinya dalam program TEDS mengenai “Bring on the learning revolution” (2010), menyatakan bahwa
salah satu sebab yang paling mendasar adalah karena sistem pendidikan yang berjalan saat ini dirancang dengan asumsi-asumsi pada masa lalu, yang tak lagi sesuai dengan kondisi saat ini. Paradigma pendidikan baru harus menekankan pada “divergent thinking”, yakni kapasitas untuk melakukan hal-hal kreatif. Divergent/lateral thinking meliputi kemampuan untuk melihat banyak kemungkinan jawaban untuk sebuah masalah tertentu, melihat banyak tafsir dan pemahaman atas sebuah pertanyaan, untuk berfikir literal (tak hanya linear dan konvergen), dan melihat banyak solusi bukan hanya satu solusi.

Selain itu, prinsip pendidikan semestinya bukan hanya sekedar memberi makan otak dan membuat anak menjadi pintar, namun juga memberi makan pada nurani, memberi fondasi moral dan juga membangun kesadaran sebagai seorang manusia. Pendidikan adalah komitmen menabur benih untuk menciptakan dunia dan lingkungan kehidupan yang lebih baik, serta bermanfaat untuk kepentingan sesama. Pendidikan semestinya seperti mentari yang memberi pancaran energi kepada alam semesta tanpa memandang suku, agama, ras atau golongan manusia yang menerima cahayanya.

Pendidikan karakter sebagai salah satu reformasi pendidikan saat ini telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal).

Alasan kenapa harus reformasi pendidikan adalah: pertama, karena alasan ekonomi, untuk mengantarkan anak-anak agar dapat selaras dengan perekonomian abad 21, yang terus berevolusi dengan cepat dan semakin sulit diprediksi, dan kedua, karena faktor budaya, bagaimana tetap mempertahankan identitas budaya lokal di tengah terpaan globalisasi yang sangat dahsyat. Dan yang paling penting, pendidikan harus bisa selaras dengan prinsip-prinsip menghargai potensi anak dan keunikan/kekhasan kepribadian anak.

Pertanyaan berikutnya yang muncul, apakah kurikulum pendidikan dan metode yang ada dalam sistem pendidikan sekarang sudah mencukupi untuk pengembangan karakter siswa? Mengapa masih banyak siswa bermasalah di sekolah? Mengapa bagian kesiswaan masih kelimpungan dalam mencari metode yang efektif dalam menghadapi persoalan siswa baik secara akademik maupun non akademik???

Apa itu “Senam Kecerdasan”?

Persoalan penting saat ini dalam dunia pendidikan adalah krisis SDM. Krisis SDM tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan kita menggunakan bakat dan talenta sebagai manusia. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan evolusi, tetapi revolusi dalam bidang pendidikan. Sistem pendidikan yang ada sekarang harus ditransformasikan menjadi sesuatu yang berbeda.

Menurut Ken Robinson, masalah terbesar dari reformasi atau transformasi pendidikan adalah tirani dari penalaran umum, sebuah nilai dan praktek yang sudah diterima apa adanya sebagai kebenaran dan orang menganggap tidak mungkin dilakukan dengan cara lain karena biasanya memang begitu. Dogma-dogma (pendidikan) pada dasarnya adalah buah pemikiran sebagai respon masalah pada sebuah zaman. “Banyak dari ide-ide kita telah dibentuk, bukan untuk memenuhi keadaan abad ini, tapi untuk mengatasi keadaan abad sebelumnya”. kita harus memerdekakan diri kita dari beberapa ide-ide tersebut”. Salah satu dogma tentang pendidikan yang sudah tidak tepat zaman adalah ide mengenai linearitas. Jika kita mulai dari sebuah titik dan kita melakukan semuanya dengan benar, maka kita pasti akan sampai di tujuan dan selamat seumur hidup kita. Padahal, kenyataannya hidup tidaklah linear. Kehidupan itu layaknya organik. ”Kita menciptakan hidup kita secara simbiotik seiring dengan eksplorasi bakat-bakat kita dalam kaitannya dengan situasi yang tercipta untuk kita.”

Model yang menarik untuk menjelaskkan hal-hal tersebut di atas, ada temuan yang sangat menarik dalam seni pernafasan dan olah gerak tubuh, salah satunya disebut dengan “Senam Kecerdasan” yang melalui gerakan-gerakan tubuh tertentu dan pengolahan pernapasan yang tepat dapat mengolah semua sumber energi dalam tubuh dan luar tubuh secara simultan. Sistem yang terintegerasi dan energi yang lebih berkualitas dapat diolah melalui sebuah proses dekonstruksi dan rekonstruksi sumber daya energi dan aliran energi sedemikian logis, sistimatis dan konsisten.

Dalam rancang bangun manajemen kualitas energi yang kokoh, tidak hanya membangun fisik luar dan dalam yang sehat, juga membangun kepribadian yang matang (mature personality) dengan tetap memperhatikan tuntutan dan situasi sehingga tetap mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda dan baru (well adjusted) dan semakin mengembangkan kesadaran spiritual terhadap pencipta (Allah SWT) dan semua ciptaannya.

Dalam senam kecerdasan terkuak bagaimana semua fungsi tubuh biologis, kimiawi tubuh dan fisika tubuh yang dapat mengoptimalkan fungsi psikologis yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, dan yang terpenting kesadaran spiritual. Medan energi yang disebut dengan "Psikolobus" merupakan titik-titik medan energi (biofield) dalam tubuh fisik yang dapat menstimulasi semua bagian dalam dan luar tubuh untuk mengembangkan potensi dan kompetensi seseorang tidak secara linear, tetapi sangat dinamis dan singular. Sebuah kesadaran baru menjadi aktif ketika kesadaran menyatakan masih ada suatu nalar yang bisa dijelajahi, suatu realita baru yang lebih holistik dan membentang.


Periode dan frekuensi Senam Kecerdasan
Total Waktu latihan : ± 40 jam
Periode latihan         : min 30 menit setiap sesi (dapat dibagi dalam beberapa sesi)

Rekomendasi
Senam kecerdasan merupakan sebuah model yang bisa menjadi alternatif baru dalam pengembangan karakter siswa yang lebih kuat dan unggul. Metode dalam senam kecerdasan akan mempengaruhi perkembangan karakter dan kecerdasan seseorang, tidak hanya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Melalui senam kecerdasan akan mengembangkan proses tumbuh kembang kepribadian seseorang dalam proses yang berjalan secara terus menerus dan menjadi traits dan karakter yang permanen dalam perkembangan kepribadian yang mature dan utuh.

Dengan senam kecerdasan yang menggunakan gerakan-gerakan tubuh yang benar dan pengolahan napas yang tepat, serta mempertimbangkan tubuh sebagai medan energi dalam dan luar tubuh, akan menumbuhkan dan mengembangkan tubuh biologis, tubuh kimiawi dan fisika, serta tubuh psikologis dalam proses mencapai kesadaran kosmik.

Psikolobus sebagai medan energi tubuh dalam aktifitas senam kecerdasan dikembangkan secara optimal dan terintegrasi dalam kualitas medan energi yang berproses secara terus menerus, proses ini menjadi proses berbeda (peningkatan kualitas terus menerus terjadi) yang tidak bisa terpisahkan dalam setiap titik-titik psikolobus. Hal ini mengembangkan semua potensi dan kompetensi dalam struktur dan dinamika kepribadian seseorang secara konsisten dan komprehensif.

Senam kecerdasan akan melatih dan mengembangkan kesadaran yang lebih tinggi, akan membuat seseorang bertumbuh dan berkembang dalam kepribadian seseorang menjadi :

1. Memiliki sifat pemimpin
2. Menyukai tantangan
3. Mampu mengambil keputusan dan resiko
4. Menjadikan diri sendiri sebagai sahabat terbaik
5. Mampu mengendalikan stres

Penemuan aktifitas senam kecerdasan dapat membuktikan secara logis dan sistematis bagaimana dinamika intrapsikis yang selama ini masih terbatas dijelaskan dalam psikologi, maupun ilmu pengetahuan yang lain. Selama ini ilmu pengetahuan yang terbagi-bagi dalam cabang ilmu pengetahuan seperti terpisah dan terkotak, sehingga pemahaman menjadi parsial dalam proses tumbuh kembang manusia secara keseluruhan dalam alam semesta. Keterbatasan daya nalar dan pola perkembangan kepribadian manusia dalam lingkungan dan alam semestanya menjadi begitu terbatas. Manusia sebagai mahluk hasil ciptaan yang tertinggi derajatnya di mata sang pencipta, manusia diperkenankan bergerak begitu progresif namun harus sesuai dengan kaidah alam yang semestinya telah dihasilkan "Sang Maha Kuasa" sebagai Creator yang tertinggi.

Melalui senam kecerdasan, kita menjadi lebih memahami arti dan makna "kecerdasan" sebagai sebuah sistem yang terintegerasi hasil pengelolaan ego, emosi dan memori yang sudah diperbaiki yang didukung oleh kreatifitas, intuisi, integritas dan wisdom dalam bagian yang tidak terpisahkan dan terkait satu sama lain. Senam kecerdasan juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk memahami spiritualitas dalam kualitas yang begitu tinggi melampaui daya nalar yang selama ini terkungkung oleh aturan dan doktrin yang kaku. Keyakinan (belief system) dan keimanan (faith) sebagai mahluk ciptaan yang membutuhkan spiritualitas menjadi tak terbantahkan, kemudian dapat dibuktikan secara logis dan sistematis dengan memahami prinsip dan asas cara kerja medan energi dalam tubuh manusia dan alam semesta. Energi memiliki prinsip, asas dan cara kerja yang amat cerdas dan jujur dengan mengikuti kaidah-kaidah yang semestinya. Kalimat ‘Manusia yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya’ menjadi jelas dan mudah dipahami.

Nb : untuk melakukan senam kecerdasan contoh gerakan dan proporsinya bisa  dilakukan dengan pelatih yang sudah mempuni dan mendalami. Sudah banyak bukti real yg terjadi sebagian sekolahan di Indonesia yg menggunakan metode ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu prana?

ESTETIKA ALAM DAN PENGETAHUAN EKOLOGIS