ESTETIKA ALAM DAN PENGETAHUAN EKOLOGIS
"Keindahan alam adalah cerminan bagi Yang Maha Mutlak"
~Plato~
Keindahan alam tidak lain adalah cerminan bagi dunia atas sana. Itulah mengapa dunia ragawi merupakan qantarat al-haqiqah, jembatan menuju kebenaran. Maka dari itu dunia yang kita huni ini merupakan petunjuk akan kebenaran wujud yang lebih hakiki dan absolut.
Pandangan ini dapat dijadikan acuan dalam memahami konsep dan pemahaman sufistik mengenai alam dan isinya termasuk manusia. Ketidakmampuan manusia modern dalam menemukan kebahagiaan bisa jadi merupakan akibat dari kegagalannya menemukan keindahan ilahi melalui alam semesta. Karena masalah yang sering muncul dalam konteks ekologi adalah bahwa alam sudah sedemikian rusak, dan dengan demikian tidak lagi memperlihatkan sisi-sisi indah Yang Maha Kuasa. Alam menjadi begitu ganas, gersang dan kering, yang pada gilirannya dapat membutakan manusia untuk melihat Tuhan dan keindahan-Nya.
Muhammad Fathullah Gulden, berbicara mengenai keindahan alam dalam kerangka ilmu Al-Qur’an, sudah cukup menunjukkan bahwa estetika alam dan kualitasnya merupakan cermin ilahi yang paling pokok. Al-Qur’an tidak dipisahkan dari persoalan keindahan. Karena bahasa Al-Qur’an sendiri adalah keindahan. Tulisan atau kaligrafi Arab juga sangat identik dengan keindahan. Karenanya ajaran Al-Qur’an sering mengarahkan manusia untuk melihat dan memikirkan alam sebagai objek estetis, dengan tujuan untuk menemukan atau mempercayai keberadaan Tuhan.
Jika di tinjau lebih luas, bisa jadi keseluruhan ilmu-ilmu keislaman dimaksudkan untuk mengenal Tuhan sebagai objek estetis melalui kontemplasi pikir maupun aktivitas zikir. Ilmu-ilmu alam seperti astronomi, geologi, ekologi maupun kosmologi dapat berperan sebagai sarana mencapai pengenalan Tuhan. Karena semua ilmu itu suci, dan bertujuan untuk mengenal Yang Suci. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an diisyaratkan bahwa melihat dan merenungi tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang ada di alam raya ini dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Ini artinya bahwa alam raya adalah “kitab suci” yang dapat mengantarkan seseorang kepada Yang Suci. “Melalui alam Tuhan tidak pernah berhenti melukiskan karyanya yang maha indah” demikian kata Jalaludin Rumi.
Manusia sebagai Pembaca
Menurut 'Abd al-Karim al-Jili alam ini di samping suci juga merupakan pancaran atau jelmaan dari Tuhan Yang Maha Suci. Mengingat bahwa alam diciptakan dengan kodrat-Nya yang qodim, bahwa proses penciptaan alam itu tidak pernah lepas dari penampilan Tuhan secara terus menerus, maka alam itu dalam dirinya mengandung unsur yang ilahi, atau suci.
Ada keterkaitan dan hubungan yang permanen, lekat dan saling melebur antara Tuhan dan alam. Karena Tuhan adalah yang menciptakan alam. Karena itu hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan adalah sesuatu yang lumrah, bahkan niscaya. Dalam hal ini bisa dianalogikan atau dicontohkan hubungan Tuhan dan alam adalah seperti air dan es. Tuhan adalah air dan alam adalah es. Nama es sebenarnya tidak ada, karena pada dasarnya es adalah air. Kata es hanya ada ketika air menjadi dingin dan menggumpal, maka es tidak akan pernah menjadi es dan hanya menjadi air. Artinya, secara hakiki es adalah air selama ia dalam kondisi dingin dan menggumpal. Al-Jili melihat alam tidak lain adalah dunia fenomena sebagai bagian integral dari dunia noumena, alam manusia adalah kepanjangan tangan dari alam Tuhan, kota manusia adalah titisan dari pada kota Tuhan.
Apa yang dikatakan di atas mengandung arti bahwa segala sesuatu termasuk alam dan berbagai keanekaragaman genetiknya mempentuk satu nilai yang harus dijaga dan dirawat, sebuah nilai yang bersifat nasuti tetapi amat terkait dengan sebuah nilai yang lebih bersifat lahuti.
Menurut Ibnu 'Arabi dan Rumi sering menyinggung bahwa alah adalah jelmaan dari Tuhan. Ibn 'Arabi terkenal dengan konsep insan Kamil yang tidak lain adalah sosok manusia yang memiliki sifat-sifat ketuhanan. Rumi terkenal dengan konsepnya yang ia sebut al-'aql al-kulli (akal universal) yang intinya adalah bahwa jika akal telah mencapai tingkat aktualisasi, maka manusia menjadi “cermin yang jernih yang dapat memancarkan menifestasi Tuhan secara jelas dan nyata.”
Konsep tersebut merupakan dua sisi dari koin yang sama. Akal universal merupakan akal milik manusia utama, dan manusia utama adalah yang telah mewujudkan akalnya menjadi akal universal. Dalam konteks permasalahan pelestarian alam, dituntut untuk bersedia menerima pandangan bahwa siapa saja bisa menjadi manusia utama.
Jika menggunakan kerangka berpikir Rumi, maka penjelasan mengenai manusia utama itu bisa dimulai dengan pembagian akal manusia menjadi dua bagian, yaitu akal partial (al-aql al-juz'i) dan akal universal (al-‘alam al-kulli). Pembagian ini berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Pertama akal partial bersifat faktual artinya apa adanya, sedangkan kedua akal universal adalah akal aktual artinya telah mencapai tingkatan tertentu dan mewujudkan tujuan hakiki. Akal universal inilah yang dimiliki manusia utama.
Manusia utama dengan akal universal yang dalam pandangan Rumi adalah manusia yang mencapai pada suatu tingkatan dimana yang penting baginya adalah keutamaan. Manusia jadi utama jika ia memiliki keutamaan, dan keutamaan itu ditentukan oleh kondisi akalnya. Maka dari itu seseorang harus terus menerus melakukan perjalanan spiritual guna mengaktualisasikan akalnya dan mengubah dirinya menjadi manusia utama.
Ibn 'Arabi dan Rumi meyakini bahwa manusia utama adalah jelmaan sempurna dari Sang Pencipta yang dapat menjalankan peranan di atas panggung gembira kehidupan sesuai dengan kehendak suci-Nya. Secara ekologis, patokan ini berarti bahwa manusia utama adalah manusia yang mengerti dengan baik tata cara kehidupan ekosistem sehingga alam dan segenap benda-benda di dalamnya tidak terluka dan tetap terjaga.
Penjelasan lebih lanjut, al-Jili, ibn 'Arabj dan Rumi memandang manusia adalah utama sebagai penampilan diri (tajalli) Tuhan yang paripurna atau bahkan jelmaan (nuskhah) dari pada-Nya. Sebagai makhluk yang sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai role model bagi semua orang. Baginya, manusia utama adalah rantai penghubung antara Tuhan, manusia dan alam. Ia sempurna dari segi wujud dan esensi karena mampu memanifestasikan dalam dirinya citra Tuhan dan mencerminkan sifat dan nama-Nya dengan sempurna pula.
Menurut al-Jili, disamping manusia utama sebagai penyambung lidah Tuhan, manusia utama adalah penyebab kelestarian alam dan eksistensinya, serta pusat kesadaran manusia terhadap semesta.
Etika dan Estetika Ekologi
Dalam pandangan Islam etika, estetika ekologi maupun metafisika tentang alam berpedoman pada rasa hormat dan tanggungjawab terhadap alam sebagai wujud yang memiliki nilai pada dirinya. Manusia memiliki kewajiban moral untuk menjaga kelestarian alam dan keutuhannya. Secara ekologis manusia adalah bagian dari alam. Perusakan terhadap alam adalah malapetaka bagi manusia baik secara fisik, mental dan bahkan spiritual. Kering dan gersangnya alam akan berdampak pada kurus keringatnya manusia secara spiritual.
Dalam ajaran Islam, alam dan keseimbangannya harus dijaga kelestariannya harus dijaga dan dilestarikan. Al-Qur’an dalam surat ar-Rahman, ayat 7, berbicara soal mizan (keseimbangan). Tuhan berfirman: “Dan Dia mengangkat langit lalu membuat keseimbangan baginya”. Secara keseluruhan kata “mizan” dalam surat ar-Rahman tersebut lebih tepat diartikan sebagai keseimbangan alam, apalagi jika kita perhatikan secara lebih seksama surat itu banyak bicara tentang alam beserta isinya seperti manusia, matahari, bulan, bintang, pepohonan, langit, bumi, buah-buahan, binatang dsb. Maka dapat dipahami bahwa kata “mizan” lebih bermakna keseimbangan alam.
Secara tersirat ayat itu juga berarti bahwa ciptaan Tuhan itu secara keseluruhan membentuk satu kesatuan di mana jika salah satu dari keseluruhan itu terganggu maka stabilitas alam secara umum terganggu. Secara ilmiah ini sudah terbukti, apalagi dalam beberapa temuan kajian ekologi didapatkan bahwa gundulnya hutan di beberapa belahan dunia telah mengakibatkan semakin naiknya suhu udara di belahan bumi lainnya. Kemudian semakin naiknya suhu udara di bumi itu mengakibatkan pula mencairnya beberapa pulau es di kutub utara sehingga pada akhirnya berujung pada semakin naiknya permukaan laut di seluruh dunia. Ini adalah contoh kecil dimana sisi-sisi alam raya ini terkait satu sama lain.
Dalam ajaran Islam dan pendapat para pemikirnya alam menempati tempat yang amat istimewa. Bahkan seperti yang sudah dijelaskan alam merupakan bagian integral dari kehidupan spiritual dan religius muslim. Tidak aneh jika kemudian seorang Ibn Tofayl menulis Hay ibn Yaqzan yang menceritakan tentang perjalanan spiritual seorang yang mencari kebenaran dan jati diri melalui alam.
Karena alam merupakan bagian integral dalam kehidupan spiritual dan religius manusia, maka menjaga kelestariannya merupakan kewajiban agama. Terganggunya kelestarian alam akan berpengaruh pada kelestarian kehidupan keagamaan manusia. Jika saja seluruh dunia ini sudah kehilangan sifat alamiahnya, dan digantikan dengan serba-serbi yang merupakan buatan manusia, niscaya keseimbangan. Keagamaan manusia akan terganggu. Ini karena manusia tidak dapat lagi melihat dan menemukan “lukisan” Tuhan dalam alam. Manusia akan kehilangan objek kontemporer yang paling agung dan bernilai.
Faktanya adalah bahwa di dunia yang sudah serba modern ini “kota manusia” telah mengambil alih peranan “kota Tuhan”. Dulu, “kota manuisa” melebur dalam “kota Tuhan” sebagai entitas yang integral dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Namun dengan merebaknya ajaran dan mentalitas materialistik, perbedaan antara yang material dan yang spiritual menjadi hilang, bahkan yang spiritual kemudian lenyap ditelan oleh yang material. Yang spiritual dicaplok oleh yang material, kemudian “kota manusia” menggantikan “kota Tuhan”. Dalam kondisi ini, peradaban modern memunculkan watak-watak yang antroposentris yang menenggelamkan Tuhan dan memuja-muja manusia sebagai pencipta.
Sumber:
'Abd al-Karim al-Jili, Al-Insan al-kamil di Ma'rifat al-Awakir wa al-Awa'il, Kairo: Killiyyat al-Azahariyyah, 1960.
Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Abdul Kadir Riyadi, Show Me Things As They Are: Study on the Religius Thought of Jalaludin Rumi, Disertasi PhD diajukan ke University of Capek Town, 2004.

Komentar
Posting Komentar